Ragam  

Jejak Pujangga Empu Sedah dan Riwayat Kuno Kecamatan Modo yang Terlupakan

LAMONGAN | PANTURAPOS — Perbukitan di kawasan selatan Kabupaten Lamongan ternyata menyimpan bentangan rekam jejak peradaban Nusantara yang luar biasa. Kecamatan Modo—sebuah wilayah yang tenang—kini makin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu episentrum sejarah kuno Jawa. Kawasan ini tercatat menyimpan sedikitnya delapan prasasti purbakala yang melintasi era tiga kerajaan besar: Kahuripan di bawah Raja Airlangga, Kerajaan Kadiri (Panjalu), hingga puncak kejayaan Majapahit.

Kepadatan temuan artefak serta prasasti batu di kawasan ini menguatkan analisis para peneliti bahwa Modo pada masa lampau bukan sekadar kawasan permukiman biasa. Wilayah ini diprediksi kuat memegang peranan strategis sebagai kawasan sima atau tanah perdikan—wilayah istimewa yang dibebaskan dari kewajiban pajak oleh raja untuk memelihara bangunan suci atau menopang aktivitas spiritual dan intelektual.

salah satu titik paling magnetis dalam peta arkeologi Modo terletak di Dusun Sedah, Desa Pule, yang dikenal sebagai Situs Sedah. Masyarakat lokal beserta para sejarawan meyakini nama dusun tersebut bertautan erat dengan figur legendaris Empu Sedah, pujangga tersohor era Raja Jayabaya dari Kadiri yang mengarang mahakarya sastra Kakawin Bhāratayuddha.

Di lokasi ini berdiri sebuah artefak monumental yang dikenal oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur sebagai Prasasti Modo. Batu putih menjulang setinggi 153 sentimeter dengan lebar 95 sentimeter dan tebal 29 sentimeter tersebut berdiri membisu. Kendati aksara Jawa Kuno pada permukaannya telah tergerus zaman hingga tak lagi dapat terbaca secara tekstual, keberadaannya menjadi bukti fisik tak terbantahkan atas peristiwa penting pada masa silam.

“Kehadiran artefak batu dan Punden Sentono di dekatnya mengindikasikan kuatnya aktivitas penghormatan serta spiritualitas masa lalu. Cerita tutur yang berkembang mengenai punden tersebut sebagai tempat pemujaan atau petilasan Empu Sedah makin diperkuat dengan temuan permukaan berupa serpihan keramik asing melintasi rute menuju situs,” ungkap penelusuran arkeologis lokal.

Tak hanya Situs Sedah, dominasi Moda dalam peta sejarah kuno diproyeksikan makin luas. Di Desa Sambangrejo, ditemukan Prasasti Sambangan 1 dan 2 di area pertanian warga, dengan indikasi kuat Prasasti Sambangan 2 berasal dari era Raja Airlangga. Lebih jauh lagi, wilayah Modo diperkirakan menjadi bagian integral dari Sima Biluluk pada masa Majapahit, serta menyimpan memori kolektif warga terkait perlintasan masa muda Mahapatih Gajah Mada.

Menanggapi besarnya potensi cagar budaya ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan berkolaborasi dengan Pusdatin Kemendikbudristek untuk terus mempercepat verifikasi dan validasi data lapangan. Langkah ini diambil guna memastikan seluruh warisan sejarah di Kecamatan Modo terinventarisasi dengan akurat dalam basis data cagar budaya nasional sekaligus terlindungi dari kepunahan. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *