Tradisi Dukutan dan Salat Istisqa Warga Bojonegoro: Menelisik Narasi Viral dan Realita Lapangan

BOJONEGORO | PANTURAPOS — Sebuah rekaman video yang memperlihatkan puluhan warga menggelar salat minta hujan atau salat istisqa di tengah area persawahan mendadak viral di berbagai platform media sosial. Kegiatan keagamaan yang dipadukan dengan kearifan lokal ini menarik perhatian luas warganet lantaran dinarasikan berbuah hasil instan.

Berdasarkan penelusuran, aksi yang melibatkan kaum pria, wanita, hingga anak-anak tersebut berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Dalam video yang beredar, warga setempat menggelar doa bersama di tengah terik siang hari yang dikemas dalam balutan tradisi lokal yang dikenal sebagai tradisi dukutan.

Kepala Desa Sumberagung, Putoyo, saat dikonfirmasi memberikan tanggapan serta penjelasan terkait video yang menjadi perbincangan hangat tersebut. Ia membenarkan bahwa warganya memang melaksanakan hajat khusus untuk memohon turunnya hujan.

“Salat minta hujan itu digelar pada Jumat Pahing, setelah salat Jumat. Waktu itu puluhan warga berbondong-bondong ke sawah untuk melaksanakan salat istisqa dan berdoa bersama,” ujar Putoyo.

Kendati demikian, Putoyo memberikan klarifikasi penting untuk meluruskan narasi keliru yang telanjur menyebar luas di dunia maya. Ia membantah klaim dalam video yang menyebutkan bahwa hujan turun langsung pada sore hari seusai salat dilaksanakan.

Menurutnya, hujan baru benar-benar turun beberapa hari setelahnya, yakni pada Minggu sore. Selain itu, cakupan hujan tersebut tidak merata secara menyeluruh di wilayah desanya.

“Iya, memang ada hujan, tetapi di desa kami hanya sebagian wilayah saja yang terkena air hujan. Hujan tersebut juga turun di beberapa desa tetangga, dan waktunya terjadi pada Minggu sore,” imbuhnya.

Meski terdapat koreksi terkait linimasa turunnya hujan, fenomena ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan, solidaritas sosial, serta pelestarian tradisi budaya lokal yang dilakukan warga Sumberagung dalam menghadapi musim kemarau dan kebutuhan air bagi sektor pertanian. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *