Oleh: Muhammad Wahid, S.Pd.I., Gr., M.Pd.
Ketua Umum DPP LSM ASLI
Konflik antara Gerakan Houthi di Yaman dan Kerajaan Arab Saudi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade bukan sekadar pertikaian politik atau perang senjata biasa. Di balik ledakan bom, runtuhnya bangunan, dan tangis anak-anak yang kehilangan orang tuanya, tersimpan sebuah pelajaran berharga bagi umat Islam: ketika pedang dikeluarkan oleh sesama saudara, yang terluka bukan hanya tubuh, tetapi juga kehormatan dan masa depan umat.
Sebagai bangsa Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, kita tidak boleh terjebak dalam kubu-kubu yang saling menuduh. Kita tidak boleh membagi umat menjadi “benar” dan “salah” berdasarkan kesukuan, mazhab, atau aliansi politik. Sikap kita harus berpijak pada dua hal: kebenaran yang berkeadilan, dan persaudaraan yang tak terputus.
Memahami Akar Konflik Secara Sederhana
Konflik ini bermula dari ketimpangan kekuasaan, ketidakadilan pembagian sumber daya, dan campur tangan kekuatan asing yang sejak lama menjadikan Yaman sebagai arena pertarungan kepentingan global. Houthi yang lahir dari kalangan masyarakat yang terpinggirkan bangkit menuntut keadilan, sementara Arab Saudi melihat gerakan ini sebagai ancaman keamanan di perbatasannya.
Yang menyedihkan, umat Islam menjadi pihak yang paling menderita. Lebih dari 377.000 orang tewas, jutaan warga mengungsi, dan Yaman kini menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Anak-anak mati kelaparan, ibu-ibu kehilangan anak, dan negeri para nabi itu berubah menjadi lautan duka.
Sikap yang Benar Menurut Ajaran Islam
Sebagai umat yang beriman, ada beberapa prinsip yang harus kita pegang teguh dalam menyikapi konflik ini:
1. Menempatkan Kemanusiaan di Atas Segala Hal
Islam mengajarkan: “Barangsiapa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang sah, seakan-akan ia membunuh seluruh umat manusia. Dan barangsiapa menyelamatkan satu nyawa, seakan-akan ia menyelamatkan seluruh umat manusia.” (QS. Al-Maidah: 32)
Apapun perbedaan pendapat di antara para pemimpin, rakyat biasa tidak boleh menjadi korban. Anak-anak, perempuan, lansia — mereka semua adalah manusia yang berhak hidup aman. Kita menolak setiap bentuk kekerasan yang menimpa warga sipil, dari pihak manapun itu datangnya.
2. Tidak Memihak Secara Buta
Kita tidak perlu menjadi pendukung Houthi maupun pendukung Saudi. Kita adalah pendukung kebenaran dan perdamaian. Jika ada pihak yang menindas, kita tegur. Jika ada pihak yang dirugikan, kita dukung haknya untuk diperlakukan adil. Tetapi ketika keduanya saling mengangkat senjata dan yang menderita adalah rakyat, maka sikap kita adalah: hentikan pertikaian, kembalilah berunding.
Rasulullah SAW bersabda: “Bantulah saudaramu yang menindas maupun yang ditindas.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu cara menolong yang ditindas, tetapi bagaimana menolong yang menindas?” Beliau menjawab: “Cegahlah ia dari menindas. Itulah cara menolongnya.” (HR. Bukhari)
3. Memperkuat Ukhuwah, Bukan Memperlebar Celah
Konflik ini sering kali dieksploitasi untuk memecah belah umat berdasarkan mazhab — Sunni melawan Syiah. Ini adalah jebakan setan dan kepentingan asing. Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang sebelum kamu terpecah-pecah dan binasa. Berpeganglah teguh-teguh pada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103)
Perbedaan pendapat dan pemahaman agama adalah hal yang wajar. Namun menjatuhkan saudara seiman dengan senjata api adalah dosa besar. Kita bisa berbeda pendapat, tetapi kita tidak boleh saling membunuh. Itulah batas yang tidak boleh dilanggar.
4. Mendukung Penyelesaian Damai
Jalan keluar dari konflik ini bukanlah kemenangan satu pihak atas pihak lain. Kemenangan sejati adalah ketika senjata diletakkan, meja perundingan dibuka, dan keadilan ditegakkan untuk semua pihak.
Indonesia, sebagai negara yang hidup berdampingan dalam keberagaman, memiliki pengalaman berharga untuk dibagikan. Kekuatan kita bukan pada senjata, tetapi pada kemampuan kita untuk duduk bersama, berbicara, dan menemukan solusi yang adil.
Kepada saudara-saudara kita di Yaman dan di Semenanjung Arab: ketahuilah bahwa doa kita tak pernah putus untuk kalian. Darah yang mengalir di tubuh kalian adalah darah yang sama dengan darah kita — darah umat Islam yang mengucap syahadat yang sama.
Kepada kita semua, di tanah pertiwi ini: jangan biarkan media sosial membuat kita saling membenci sesama saudara seiman karena konflik yang terjadi jauh di sana. Jadilah orang yang menyebarkan kedamaian, bukan api permusuhan. Ingatlah sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Semoga Allah SWT menenangkan hati para pemimpin, menghentikan pertumpahan darah, dan mengembalikan kedamaian ke tanah Yaman dan seluruh negeri kaum muslimin. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.












