Opini  

Meneladani Sifat Rasulullah SAW dalam Membangun Negeri Menuju Masyarakat Madani yang Baik dan Diberkahi

Kejujuran, Amanah, Keterbukaan, dan Kecerdasan adalah Kunci Mewujudkan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

LAMONGAN, Panturapos.com — Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang terus berubah dan penuh tantangan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat LSM ASLI, Muhammad Wahid, S.Pd.I., Gr., M.Pd., menyampaikan seruan mendalam kepada seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin, untuk kembali meneladani sikap dan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW Menurutnya, hanya dengan menempuh jalan yang ditempuh Nabi SAW ketika membangun Kota Madinah, bangsa ini dapat mewujudkan cita-cita luhur menuju masyarakat madani yang baik, tertib, sejahtera, dan diridhai Allah SWT — sebagaimana termaktub dalam janji-Nya: Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, sebuah negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Seruan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Selasa, 25 Januari 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Dalam pandangannya, peringatan kelahiran Nabi SAW tidak seharusnya hanya menjadi seremonial belaka, melainkan momen yang paling tepat untuk merenungkan kembali bagaimana beliau membangun sebuah peradaban dari nol, dari perpecahan menuju persatuan, dari ketertinggalan menuju kemajuan — semata-mata berkat kekuatan akhlak dan keteguhan pada prinsip-prinsip kebenaran.

Empat Sifat yang Menjadi Pondasi Madinah
Ketika Nabi SAW hijrah dan membangun Kota Madinah, beliau tidak mengandalkan kekayaan alam atau kekuatan militer semata. Yang beliau bangun pertama kali adalah pondasi karakter. Empat sifat luhur yang senantiasa menjadi teladan dalam setiap langkah kepemimpinannya adalah Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Keempat sifat inilah yang kemudian mengubah wajah Madinah menjadi kota yang tertib, aman, makmur, dan diberkahi Allah. Dan keempat sifat inilah yang saat ini paling mendesak untuk diamalkan kembali di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siddiq berarti benar dan jujur dalam segala hal — dalam ucapan, dalam janji, maupun dalam perbuatan. Tidak boleh ada kebohongan, tidak boleh ada janji yang diingkari, dan tidak boleh ada pemutarbalikan fakta demi kepentingan sesaat. Namun kenyataannya, kejujuran kerap kali menjadi barang yang mahal. Masih banyak yang lebih memilih menutupi kebenaran demi menjaga citra atau kekuasaan. Padahal, kepercayaan rakyat tumbuh dari kejujuran pemimpin. Jika pemimpin tidak jujur, maka seluruh bangunan kebersamaan akan retak dari dalam.

Amanah berarti memegang teguh setiap kepercayaan yang diberikan. Jabatan, kekuasaan, dan sumber daya negara bukanlah milik pribadi atau golongan, melainkan titipan Allah sekaligus amanah rakyat yang harus dikelola sebaik-baiknya untuk kemaslahatan semua. Namun yang masih sering kita temui, amanah itu belum sepenuhnya dijalankan sebagaimana mestinya. Kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya kembali kepada rakyat. Pelayanan publik belum merata hingga ke pelosok desa. Masih ada kesenjangan yang lebar antara yang mampu dan yang lemah. Hal-hal semacam inilah yang menunjukkan bahwa amanah yang diemban belum sepenuhnya dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Tabligh berarti menyampaikan kebenaran secara utuh, terbuka, dan apa adanya. Pemimpin wajib memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada rakyat — termasuk rencana, pelaksanaan, hasil, maupun kendala yang dihadapi. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, tidak boleh ada informasi yang dipotong atau dimanipulasi. Selama informasi disembunyikan atau disampaikan secara tidak jujur, maka lahirlah kecurigaan, ketidakpercayaan, dan perselisihan. Keterbukaan adalah jembatan yang menyatukan pemimpin dan rakyat. Tanpa keterbukaan, kebersamaan akan rapuh.

Fathonah berarti cerdas, berwawasan luas, dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Niat tulus saja belum cukup membawa kemajuan, jika tidak didukung kemampuan berpikir yang tajam, perencanaan yang matang, serta pengelolaan yang cerdas. Di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat ini, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya saleh hatinya, tetapi juga tajam pikirannya — mampu mengelola sumber daya dengan bijak, mampu merencanakan masa depan yang berkelanjutan, dan mampu melihat jauh ke depan demi anak cucu. Tanpa kecerdasan dan kebijaksanaan, kebaikan niat belum tentu melahirkan kebaikan yang nyata.

Menuju Indonesia yang Baik dan Diberkahi
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, Ketua Umum DPP LSM ASLI mengajak seluruh elemen bangsa, terlebih dahulu para pemimpin di pusat maupun daerah, untuk sungguh-sungguh meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW Membangun Indonesia yang baik dan diberkahi tidak akan tercapai hanya dengan seruan atau harapan semata. Ia terwujud ketika setiap pemimpin mulai bersikap jujur, menjaga amanah, menyampaikan kebenaran secara terbuka, dan mengambil keputusan dengan cerdas serta bijaksana.

“Apabila sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah benar-benar menjadi pegangan hidup kita bersama, maka insya Allah janji Allah itu pun akan turun bagi negeri kita. Indonesia akan menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur — sebuah negeri yang baik, tertib, sejahtera, dan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.”

Lebih lanjut ditegaskan pula, bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW
tidak cukup hanya dengan melantunkan shalawat atau merayakan hari kelahirannya. Bukti cinta yang sesungguhnya adalah dengan meneladani akhlak dan kepemimpinannya dalam kehidupan nyata. Jadikan keempat sifat mulia itu sebagai pedoman — dalam keluarga, dalam lingkungan pekerjaan, dalam bermasyarakat, dan terutama dalam memimpin bangsa. Jika seluruh elemen bangsa bergerak bersama membangun negeri di atas pondasi keempat sifat luhur tersebut, maka kelak Indonesia benar-benar akan menjadi negeri yang baik, sejahtera, aman, damai, dan diridhai Allah SWT.

[Penulis: Ketua Umum DPP LSM ASLI]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *