BOJONEGORO | PANTURAPOS — Sejarah baru dicatatkan oleh sektor pangan tanah air. Hingga 8 Oktober 2026, total penyerapan beras secara nasional resmi menembus angka fantastis di 4,11 juta ton atau setara dengan 102,88% dari target yang dipatok pemerintah sebanyak 4 juta ton.
Capaian monumental ini sekaligus memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah pengadaan beras nasional sebelumnya yang dipegang pada tahun 2012 silam dengan angka 3,65 juta ton.
Keberhasilan kolektif ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kerja keras di lini akar rumput. Perum Bulog Kantor Cabang (Kanca) Bojonegoro yang memegang tiga wilayah kerja strategis—yakni Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan—turut memberikan kontribusi masif dengan menyerap hingga 84.986 ton setara beras. Angka tersebut melampaui target yang dibebankan dengan realisasi mencapai 104,65%.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Bojonegoro, Umar Said, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian luar biasa tersebut. Menurutnya, kesuksesan ini merupakan buah manis dari kolaborasi lintas sektoral yang terjalin solid sepanjang musim panen tahun 2026.
“Capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak yang mendukung penyerapan gabah dan beras di wilayah kerja Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan,” ungkap Umar saat memberikan keterangan pada Jumat (9/10/2026).
Lebih lanjut, Umar menekankan bahwa pencapaian melampaui target ini bukan sekadar mengejar angka semata. Ini adalah manifestasi nyata dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) serta menjaga stabilitas ketahanan pangan secara berkelanjutan demi kepentingan masyarakat luas.
Sejumlah strategi kunci turut mengawal keberhasilan penyerapan di lapangan, di antaranya:
-
Kolaborasi Solid: Kemitraan erat yang terbangun harmonis antara pihak Bulog, petani lokal, gabungan kelompok tani (gapoktan), mitra penggilingan, hingga pemangku kepentingan di tingkat daerah.
-
Jaringan Pembelian Langsung: Mengoptimalkan sistem jemput bola dan pembelian langsung di titik produksi agar hasil panen petani dapat terserap cepat dengan harga yang adil serta stabil.
-
Optimalisasi Infrastruktur: Pengelolaan sarana penyimpanan dan kapasitas pergudangan yang andal guna menjamin kelancaran alur serta keamanan stok pengadaan.
Melalui penyerapan yang optimal ini, Bulog memastikan kesejahteraan petani di daerah tetap terjaga lewat kepastian pasar hasil panen, sekaligus memperkokoh fondasi ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global. [Bed]












