Daerah  

Wujudkan Ketahanan Pangan, Pemkab Bojonegoro Optimis Kawasan Agroforestry Sukoharjo Dongkrak Ekonomi Warga

BOJONEGORO | PANTURAPOS — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmen kuatnya dalam memajukan sektor agraris demi mewujudkan daerah sebagai lumbung pangan nasional. Hal tersebut disuarakan langsung oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam peringatan Hari Tani Nasional yang dipusatkan di kawasan agroforestry Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Rabu (7/10/2026).

Di hadapan ratusan petani dari delapan desa di sekitar wilayah kerja hulu migas, Setyo Wahono menekankan pentingnya efisiensi biaya operasional dan pemanfaatan potensi lokal untuk menekan ketergantungan pada pupuk kimia. Menurutnya, ukuran keberhasilan sektor pertanian bukan sekadar kuantitas hasil panen, melainkan kesejahteraan petani yang didukung oleh rendahnya biaya produksi.

“Di mana pun saya selalu berupaya hadir untuk memberikan semangat dan memastikan mimpi kita bersama sebagai kabupaten lumbung pangan dapat terwujud,” ujar Setyo Wahono dalam kegiatan yang turut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro Zainal Fanani, jajaran Forkopimcam, serta manajemen ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Bupati juga memberikan apresiasi terhadap program pendampingan pertanian yang telah berjalan melalui sinergi bersama EMCL dan Yayasan Field Indonesia sejak 2020. Kendati demikian, ia mengingatkan agar hasil positif dari lahan percontohan (demplot) tidak berhenti sebatas proyek seremonial. Setyo Wahono meminta agar metode budidaya, kalkulasi biaya, hingga capaian hasil didokumentasikan dengan rapi agar bisa direplikasi oleh kelompok tani di wilayah lain.

Sementara itu, perwakilan EMCL, Rizki Ramadan, memaparkan bahwa program sekolah lapang yang berjalan di Kecamatan Kalitidu dan Gayam telah merangkul lebih dari 600 petani. Hasilnya, produktivitas padi melonjak hingga 23 persen dengan rata-rata hasil panen mencapai 8,1 ton per hektare. Selain itu, biaya operasional berhasil ditekan hingga 30 persen, dan penggunaan pupuk kimia berkurang separuhnya.

Sebagai langkah lanjutan, Kepala Desa Sukoharjo Sulistyawan menyatakan pihaknya bersama warga berencana menyulap kawasan agroforestry di bantaran Sungai Bengawan Solo tersebut menjadi destinasi wisata edukasi serta outbound berbasis lingkungan. Inisiatif ganda ini diharapkan mampu menjaga fungsi ekologis sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *