SIDOARJO | PANTURAPOS – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas atas insiden keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan santri di Kabupaten Sidoarjo. Selain menghentikan sementara (suspend) operasional Dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin, BGN resmi mencopot kepala dapur terkait.
Langkah ini ditegaskan Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono saat meninjau langsung penanganan korban di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo dan Pondok Pesantren Manbaul Hikam Putat, Tanggulangin, Jumat (4/9/2026). Dalam kunjungan lapangan tersebut, ia didampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi, Bupati Sidoarjo H. Subandi, serta lima perwakilan Kantor Staf Presiden (KSP).
Trenggono mengonfirmasi bahwa dari total 748 santri yang terdampak, mayoritas besar telah dinyatakan pulih dan kembali ke pondok pesantren.
“Sampai pagi ini, sebagian besar santri sudah kembali. Tinggal 22 orang yang masih dalam perawatan intensif di sembilan fasilitas kesehatan, dan kondisinya terus membaik,” ujar Trenggono.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam menangani kedaruratan medis para korban, sekaligus menyampaikan permohonan maaf terbuka atas kelalaian petugas dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) di dapur penyedia.
“Kami memohon maaf atas ketidakpatuhan atau kelalaian petugas operasional dapur yang memicu kejadian fatal ini. SPPG Kalitengah kami suspend berat dan kepala dapurnya langsung kita berhentikan. Investigasi menyeluruh sedang berjalan untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau murni pelanggaran SOP,” tegasnya.
Padahal, menurut Trenggono, BGN secara berkala melakukan pengawasan ketat setiap hari terhadap seluruh dapur SPPG di Indonesia. Monitoring dilakukan melalui zoom meeting sejak pukul 02.00 WIB, mencakup pembersihan bahan baku, proses memasak, hingga tahap pemorsian dan distribusi.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi menyatakan kesiapan pihaknya untuk memberikan pemulihan emosional bagi para santri yang terdampak trauma.
“Jika pihak pesantren membutuhkan pendampingan tambahan, kami siap berkolaborasi menerjunkan tim trauma healing agar psikologis anak-anak pulih dan siap kembali mengikuti proses belajar,” pungkas Arifah. [SWD]












