Soroti Krisis Moralitas, Anggota DPR RI Ahmad Labib Sebut Buku Karya Muhammad Wahid ‘Kompas’ Bagi Pelayan Publik

JAKARTA, Panturapos.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ahmad Labib, S.H.I., M.H., memberikan apresiasi tinggi terhadap terbitnya buku karya Muhammad Wahid, S.Pd.I., Gr., M.Pd., yang berjudul “Hidup Berkah Bermanfaat bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara”. Karya literasi ini dinilai hadir di momentum yang tepat untuk mengingatkan kembali hakikat keberadaan manusia di tengah kepungan arus gaya hidup materialistis.

Dalam keterangannya, Ahmad Labib menegaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar susunan tulisan biasa, melainkan sebuah lembar refleksi mendalam mengenai orientasi hidup yang hakiki. Menurutnya, dinamika modernitas saat ini sering kali memicu perlombaan dalam mengejar kesuksesan finansial dan kedudukan sosial, namun mengabaikan esensi dari kesuksesan itu sendiri.

“Buku ini hadir di tengah kita sebagai refleksi mendalam. Di dunia yang semakin materialistis, banyak orang berlomba meraih jabatan dan harta, tetapi lupa bahwa semua itu adalah titipan, bukan tujuan akhir. Di sinilah letak keistimewaan buku ini, yang mengembalikan kita pada prinsip dasar: hidup yang berkah adalah hidup yang bermanfaat,” ujar Ahmad Labib di Jakarta.

Lebih lanjut, legislator Senayan tersebut membedah tiga pilar utama kebermanfaatan yang digagas dalam karya Muhammad Wahid:

  1. Bermanfaat bagi masyarakat: Kehadiran individu mampu menjadi pelerai dan pengurai masalah di lingkungan sekitar.

  2. Bermanfaat bagi bangsa: Setiap karya dan langkah diabdikan secara tulus untuk kemajuan bersama, bukan demi keuntungan pribadi.

  3. Bermanfaat bagi negara: Menjadi warga negara yang taat hukum, merawat persatuan, serta mengoperasionalkan keadilan sosial.

Sebagai figur yang bergerak di ranah legislasi dan perumusan kebijakan publik, Ahmad Labib menyatakan bahwa gagasan dalam buku ini sangat relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini. Pembangunan negara yang berdaulat, adil, dan makmur tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada pembentukan hukum tertulis semata.

“Negara yang kuat tidak dibangun oleh undang-undang semata, melainkan oleh manusia-manusia yang berakhlak mulia dan berjiwa pelayan publik. Kebijakan yang baik lahir dari pemimpin yang baik, dan pemimpin yang baik adalah mereka yang menjadikan kebermanfaatan sebagai kompas penuntun langkahnya,” tegas Ahmad Labib.

Mengutip pesan hadis riwayat Ahmad bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” Ahmad Labib berharap karya tulisan Muhammad Wahid ini tidak hanya berhenti sebagai materi bacaan atau wacana di rak perpustakaan, melainkan dapat ditransformasikan menjadi pedoman aksi nyata bagi seluruh elemen bangsa.

Ia mendoakan agar karya Muhammad Wahid ini menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan dan menjadi warisan nilai mulia bagi generasi penerus Indonesia dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan bermartabat. [WHD]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *