Dukung Hilirisasi dan Transisi Hijau, Petrokimia Gresik Bangun Pabrik Soda Ash Berkapasitas 600 Ribu Ton

GRESIK | PANTURAPOS – Komitmen terhadap penerapan industri hijau dan kemandirian sektor kimia nasional terus diperkuat oleh PT Petrokimia Gresik. Anak perusahaan Pupuk Indonesia ini resmi memulai tahapan pembangunan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida berkapasitas total 600 ribu ton per tahun di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Kepastian proyek strategis tersebut ditandai melalui penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara Petrokimia Gresik dengan PT Rekayasa Industri (Rekind) di Jakarta. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam mendukung akselerasi hilirisasi industri kimia serta mewujudkan rantai pasok nasional yang mandiri.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa pendirian fasilitas produksi baru ini sejalan dengan kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan ketahanan pangan nasional dan efisiensi industri dasar.

“Proyek ini mengemban dua misi utama, yakni memperkokoh ketahanan pangan melalui diversifikasi bahan baku nitrogen untuk pupuk NPK, sekaligus mendorong transisi industri hijau berbasis pemanfaatan emisi karbon (carbon capture),” ungkap Rahmad, Sabtu (31/10/2026).

Fasilitas anyar ini dirancang untuk memproduksi masing-masing 300.000 ton soda ash dan 300.000 ton amonium klorida per tahun. Kehadiran pabrik ini diproyeksikan mampu menekan ketergantungan impor bahan kimia dasar yang selama ini banyak dibutuhkan oleh industri kaca, deterjen, kertas, tekstil, hingga pengolahan air bersih.

Sementara itu, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik di kawasan industri Gresik memiliki nilai tambah secara ekonomis maupun lingkungan. Proses manufaktur soda ash nantinya akan mengintegrasikan gas CO₂ dari fasilitas manufaktur eksisting sebagai bahan baku utama.

“Langkah integrasi ini tidak sekadar memperluas portofolio bisnis perusahaan, tetapi juga menjadi solusi konkret dalam mereduksi emisi karbon dari kegiatan operasional industri,” jelas Daconi.

Dari sisi pengerjaan teknis, Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, menyatakan kesiapan jajarannya untuk mengawal seluruh fase proyek—mulai dari rekayasa teknik, pengadaan material, pengerjaan konstruksi, hingga uji fungsi (commissioning)—secara optimal dengan standar keselamatan dan ketepatan waktu yang tinggi. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *