JAKARTA | MDN — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mengumumkan susunan kepengurusan lengkap untuk masa khidmat 2026–2031. Sorotan utama publik tertuju pada penunjukan Gus H. Gudfan Arif, S.I.P., yang dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU.
Gus Gudfan merupakan putra dari pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Prof. Dr. Abdul Ghofur. Penetapan struktur pengurus baru ini dilangsungkan di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, pada Rabu (30/9/2026).
Prosesi pengumuman tersebut diwarnai oleh momen simbolik yang menyita perhatian. Hampir seluruh jajaran pengurus yang hadir tampak kompak mengenakan syal bernuansa Palestina. Aksi serempak ini merefleksikan pernyataan sikap moral, doa, serta dukungan penuh terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina di kancah internasional.
Latar belakang Gus Gudfan Arif yang tumbuh dalam tradisi pengabdian pesantren peninggalan Sunan Drajat dinilai menjadi modal penting. Pesantren tersebut selama ini dikenal konsisten mengajarkan harmoni antara nilai keagamaan, nasionalisme, dan kepedulian sosial yang kuat. Penunjukan ini dipandang sebagai bentuk pengakuan atas kualitas kaderisasi di lingkungan pesantren bersejarah tersebut.
Penunjukan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, salah satunya datang dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ASLI, Muhammad Wahid, S.Pd.I., Gr., M.Pd.
Ia menyampaikan rasa syukur atas amanah besar yang dipercayakan kepada putra daerah asal Lamongan tersebut. Menurutnya, pemandangan para pengurus yang mengenakan syal Palestina menegaskan visi global organisasi.
“Kehadiran para pengurus dengan atribut Palestina menyiratkan pesan luhur bahwa NU tidak hanya fokus pada persoalan domestik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama umat di belahan dunia lain,” ujar Muhammad Wahid.
Pihaknya juga menitipkan sejumlah harapan besar kepada kepengurusan baru PBNU di bawah kepemimpinan Gus Gudfan Arif, di antaranya:
-
Merawat Persatuan: Menjaga keutuhan umat, merawat keberagaman, serta memperkuat jalan tengah yang moderat dan menyejukkan.
-
Kedekatan dengan Rakyat: Memastikan program-program NU dirasakan langsung oleh masyarakat bawah, kaum terpinggirkan, dan yang membutuhkan perlindungan.
-
Penguatan Pesantren: Menjadikan pesantren sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, motor penggerak ekonomi umat, sekaligus benteng moral bangsa.
-
Konsistensi Keadilan: Tetap lantang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, termasuk mendukung kemerdekaan Palestina.
-
Tata Kelola Transparan: Mengelola organisasi secara akuntabel, jujur, dan bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan publik.
Kehadiran figur Gus Gudfan Arif di jajaran pimpinan pusat PBNU ini turut membawa gelombang kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Lamongan, khususnya warga Paciran. Publik berharap kepemimpinan baru ini membawa keberkahan luas bagi kemaslahatan agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). [WHD]










