PANTURAPOS | JOMBANG – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menuai perhatian publik. Ketua Umum DPP LSM ASLI, Muhammad Wahid, S.Pd.I., M.Pd., menilai mekanisme penentuan pimpinan tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 kali ini memiliki kemiripan esensial dengan sistem yang diterapkan di Muhammadiyah.
Menurut Wahid, meski menggunakan istilah teknis yang berbeda, kedua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia tersebut sama-sama mengusung prinsip Syura (musyawarah) ketimbang pemilihan langsung yang berpotensi memicu gesekan internal.
“Muktamar NU ke-35 ini menghadirkan kesejukan. Mekanisme yang digunakan sejatinya memiliki roh yang sama dengan Muhammadiyah, yaitu berbasis Syura. Peserta tidak memilih Ketua Umum secara langsung, melainkan menyerahkan mandat penuh kepada tokoh-tokoh tepercaya,” ujar Muhammad Wahid saat ditemui di lokasi muktamar, Jombang.
Wahid menjelaskan, NU menerapkan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang terdiri dari sembilan ulama sepuh berintegritas tinggi. Majelis inilah yang diberi wewenang khusus untuk bermusyawarah dan menetapkan Nahdoda PBNU.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan sistem formatur beranggotakan 13 orang Pimpinan Pusat terpilih yang kemudian bermusyawarah menentukan Ketua Umum.
“Bentuknya memang beda, NU dengan 9 anggota AHWA dan Muhammadiyah dengan 13 formaturnya. Namun esensinya persis sama: menempatkan kepercayaan pada musyawarah, bukan kompetisi terbuka, kampanye massal, atau aksi perburuan suara,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wahid menilai mekanisme musyawarah tertutup oleh figur berilmu tinggi ini menjadi benteng efektif dalam meredam perpecahan serta menghindari politik uang. Model ini membuktikan bahwa demokrasi dalam bingkai Islam prioritas utamanya adalah kualitas kepemimpinan, bukan sekadar popularitas.
“Ini adalah potret demokrasi Islam yang sehat. Pemimpin lahir karena amanah dan kapasitas keilmuan. Harapan kita bersama, mekanisme ini melahirkan jajaran pimpinan yang memiliki sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW,” tambah Wahid.
Muktamar ke-35 NU di tanah kelahiran pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, ini dihadiri oleh ribuan utusan dari tingkat cabang, wilayah, hingga perwakilan luar negeri. Agenda penetapan pimpinan melalui forum AHWA menjadi momen puncak yang dinantikan seluruh warga nahdliyin dan masyarakat luas. [WHD]












