LAMONGAN, Panturapos.com | Masyarakat Desa Gedongboyountung, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan kini memiliki akses kemudahan baru dalam memperoleh pasokan air bersih dan higienis. Sinergi antara tim pengabdian dosen dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 194 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyalurkan bantuan teknologi tepat guna berupa mesin filter air berteknologi Ultra Violet (UV Sterilizer) pada Sabtu (15/8/2026).
Penyerahan sarana pemurni air berbasis multi-stage filtration tersebut berlangsung khidmat di Balai Desa Gedongboyountung. Kehadiran inovasi ini menjadi solusi konkret atas permasalahan kualitas air lokal yang selama ini cenderung keruh, berendapan lumpur, serta rentan terkontaminasi mikroorganisme.
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Lis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menyerahkan secara langsung bantuan tersebut kepada pihak desa. Ia menjelaskan bahwa alat ini dirancang khusus untuk mengolah air baku yang kurang layak menjadi air steril yang aman dikonsumsi secara langsung tanpa harus dimasak terlebih dahulu.
“Alat ini bekerja secara komprehensif, mulai dari penyaringan partikel fisik dan zat kimia berbahaya, hingga tahap sterilisasi akhir menggunakan sinar UV untuk membunuh bakteri serta patogen berbahaya dalam air,” ujar Lis Siti Aisyah di sela-sela acara serah terima.
Selain efektif memurnikan air, teknologi ini dirancang sedemikian rupa agar mudah dioperasikan oleh warga pedesaan. Koordinator Desa KKN Kelompok 194 UMM, Ahmad Dimas Putra Deva, menegaskan bahwa aspek keberlanjutan menjadi fokus utama dalam perancangan alat.
“Mesin penyaring air ini sengaja dirancang agar ramah pengoperasian dan perawatan (low maintenance) oleh pengurus balai desa maupun warga setempat, sehingga daya gunanya dapat bertahan dalam jangka panjang,” tutur Dimas.
Apresiasi senada disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 194 UMM, M. Irkham Pamungkas, S.T., M.T. Ia menekankan bahwa program pengabdian ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus terhadap isu lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Inovasi ini tidak sekadar bentuk pemenuhan tugas perkuliahan atau pengabdian rutin, melainkan wujud nyata kepedulian akademisi terhadap isu krisis air sehat dan lingkungan. Kami berharap fasilitas filter air UV ini dapat dirawat dengan baik oleh warga dan kelak direplikasi di titik-titik pemukiman lain yang membutuhkan,” ungkap Irkham.
Manfaat langsung dari hadirnya fasilitas pemurni air ini dirasakan betul oleh warga desa setempat. Sutrisno (52), salah seorang tokoh masyarakat Desa Gedongboyountung, mengaku gembira karena kini warga memiliki akses air minum higienis secara cuma-cuma.
“Selama ini warga sering khawatir karena kualitas air di wilayah kami cukup keruh dan banyak endapan. Kalau untuk minum harus dimasak lama atau membeli air galon isi ulang. Dengan adanya bantuan mesin filter UV dari UMM ini, warga sangat bersyukur karena bisa mendapatkan air yang benar-benar bersih, sehat, dan bisa langsung diminum di balai desa,” ungkap Sutrisno penuh haru.
Langkah kolaboratif akademisi UMM dan masyarakat Lamongan ini selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-6, yakni menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. [WHD]












